Selasa, 12 Mei 2009

Memahami Nama 'Hu' / 'Huwa': Dia Yang Tak Bisa Diliputi Nama





Artikel yang pada aku cukup bermanafaat untuk dikongsi bersama. Ikutilah perbincangan di bawah ini dengan perlahan-lahan dan cuba kita berfikir sejenak. Hanya sanya Allah mengetahui sesuatu itu dengan ilmu ghaibNYA dan sebahagian itu ajarkan pada rasul pilihanNYA Nabi Muhammad saw. Berdetup-detap hati bila aku membaca artikel yang cukup 'berani' ini. Penulisnya seperti nama di bawah ini dan boleh membaca artikel2 beliau yang lain di suluk.blogsome.com

A. Sebutan Tuhan

Sahabat-sahabat, kadang kita terlalu cepat ‘memagari diri’ dari istilah-istilah yang kita anggap tidak berada dalam domain yang sama dengan agama kita. Terlalu cepat ‘mengkafirkan’. Bukan mengkafirkan orang lain, tapi mengkafirkan bahasa (lain). Dengan memagari diri seperti ini, apalagi dengan didahului prasangka, maka dengan sendirinya kita akan semakin sulit saja memahami hikmah kebenaran yang Dia tebarkan di mana-mana.


Padahal, dalam Qur’an pun Allah menjelaskan bahwa beragam bahasa adalah tanda dari-Nya juga.



“Dan diantara ayat-ayatnya ialah menciptakan langit dan bumi, dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ayat-ayat bagi orang-orang berilmu (’Alimiin).” Q.S. 30 : 22.


Jika ada orang menyebut tuhannya sebagai Yehovah, Eloh, Eloheim, atau Adonai, mekanisme dalam pikiran kita mendadak seperti mencipta imaji-imaji bahwa ada banyak tuhan yang sedang berjejer, sesuai urutan sesembahan yang ada sepanjang masa. Ada tuhan yang disebut Yehovah, Eloheim, Jahveh, Brahma, Manitou, Zeus, Allah, Tuhan Alah, dan lain sebagainya. Sedangkan yang kita sembah adalah yang disebut Allah, yang lainnya bukan, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Tuhan kita dan agama kita. Pokoknya thoghut, atau kafir.


Benarkah begitu? Bukankah Tuhan hanya satu? Bukankah ‘Laa ilaaha Ila’Llah’ artinya tiada Tuhan selain Allah? Wallahu ‘alam, meski saya mengerti bahwa Tuhan hanya satu, tapi saya belum mengetahui secara total makna lahiriyah maupun batiniyah dari kalimat syahadat itu. Tapi setidaknya, bukankah cara berfikir yang seperti tadi juga berarti bahwa tanpa sadar pikiran kita telah menyejajarkan Dia dengan selain-Nya? Atau, secara halus dan tersamar sekali, itu artinya kita masih mengakui bahwa ada banyak entitas dalam satu himpunan tuhan, dan Allah adalah salah satu dari yang ada dalam himpunan itu. Bukankah itu keterlaluan?



Istilah ‘Allah’ sudah ada sejak sebelum Al-Qur’an turun. Sebelum junjungan kita Rasulullah menerima wahyunya yang pertama, bangsa Arab sudah menggunakan kata- kata ‘demi Allah’ jika mengucapkan sumpah. Hanya saja, mereka juga sering menyebut nama patung-patung mereka, ‘demi Lata’ atau ‘demi Uzza’, ‘demi punggung istriku’, atau bahkan ‘demi kuburan ibuku’, dalam sumpah mereka.


Kapan istilah ‘Allah’ pertama kali dikenal manusia? Tidak tahu persis. Diperkirakan tidak akan jauh dari periode kemunculan agama Islam yang dibawa Rasulullah di tanah Arab. Tapi apakah berarti, pada periode sebelum itu, Allah diam saja di langit sana, dan tidak memperkenalkan diri-Nya? Rasanya kok tidak demikian ya. Saya suka bertanya-tanya, misalnya dengan nama apa Allah mengenalkan diri-Nya pada nabi Ya’kub as dan nabi Musa as, nabi bangsa Bani Israil? Karena pada kenyataannya, bangsa yahudi sekarang tidak menyebut nama-Nya dengan sebutan ‘Allah’ yang sesuai dengan bahasa Arab.


Kitab suci dari Allah yang kita kenal ada empat: Taurat, Zabur, Injil, dan kitab penutup dan penyempurna semuanya, Al-Qur’an. Taurat, atau Torah, turun kepada Nabi Musa as. Karena Musa adalah orang Bani Israil, tentu kitab yang turun pun berbahasa mereka, Ibrani. Demikian pula Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Semua turun dan disampaikan dengan bahasa penerimanya.


Jadi, apakah salah jika orang yang kebetulan beragama lain, menyebut nama Allah dengan nama yang turun pada bahasa kitab mereka? Apakah itu Tuhan yang lain? Belum tentu. Sekali lagi, kita tidak boleh terlalu cepat ‘mengkafir-kafirkan’, termasuk mengkafirkan bahasa dan istilah.


Ada banyak sekali irisan kemiripan bahasa-bahasa agama dalam sejarah. Sebagai contoh, nama ‘Allah’, sangat mirip dengan ‘Eloh’. Dalam kitab-kitab Ibrani, Tuhan disebut sebagai ‘Eloheim’. Dari asal kata ini, kita mengerti misalnya arti kata ‘betlehem.’ Dari asal katanya, Bethel dan Eloheim. ‘Bethel’ bermakna rumah, dan ‘Eloheim’ adalah Allah. Rumah Allah. Jika demikian, apa bedanya kata ‘Betlehem’ dengan ‘Baytullah’?


Juga ‘Yehova’ atau ‘Yahwe’, sangat mirip dengan ‘Ya Huwa’, Wahai Dia (yang tak bernama). Yang agak ‘mencurigakan’, adalah inti ajaran Socrates, ‘Gnothi Seauthon’, yang artinya adalah ‘Kenalilah Dirimu.’ Dari segi makna, ini sangat mirip dengan inti hadits yang sering diulang-ulang oleh para sahabat Rasulullah maupun para sufi terkemuka, ‘man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa Rabbahu,’ mereka yang ‘arif tentang dirinya, akan ‘arif pula tentang Rabb nya.’ Esensinya sangat mirip: mengenal diri. Dan sebuah fakta yang tak kalah menariknya, sejarah mencatat bahwa Socrates adalah guru dari Plato, Plato guru dari Aristoteles, dan Aristoteles adalah guru dari Alexander of Macedon. Sosok yang terakhir ini oleh sebagian ahli tafsir disamakan dengan Iskandar Dzulqarnayn, sosok panglima yang namanya diabadikan dalam Al-Qur’an.


Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua tuhan sama saja, yang berbeda hanya namanya. Atau dewa pada tiang totem yang disembah bangsa indian apache adalah Allah juga. Bukan begitu. Saya hanya mengatakan bahwa kita sebaiknya jangan terlalu ‘alergi’ dengan kata-kata agamis dari agama lain. Kita harus berhati-hati sekali untuk ‘mengkafirkan’ istilah. Sebab kalau ternyata salah, maka artinya kita ‘mengkafirkan’ sebuah hikmah atau sebuah tanda dari-Nya. Maka kita akan semakin jauh saja dari kebenaran.


Bukankah Allah pasti menyebarkan jejak-Nya di mana-mana, sepanjang zaman? Dan jangan berfikir bahwa Allah hanya pernah dan hanya mau ‘muncul’ di agama kita saja. Ini berarti kita, sebagai makhluk, berani-berani menempatkan Allah dalam sebuah himpunan, ke sebuah konsep di dalam kepala kita. Himpunan deretan tuhan, atau himpunan kelompok agama.


Allah adalah Tuhan. La Ilaha Ilallah. Dia ada di luar himpunan apapun. Dia tak beragama, dan tidak memeluk agama apapun. Karena itu, kita jangan berfikir, baik sadar maupun tidak, bahwa Allah ‘beragama Islam’.


Agama diciptakan-Nya sebagai jalan untuk memahami-Nya, memahami kehidupan, dan memahami diri ini. Segala sesuatu Dia ciptakan dan Dia akhiri. Maka Allah adalah sumber dan akhir segalanya. Dua asma- Nya adalah ‘Al-Awwal’ dan ‘Al-Akhir’. Ini pun sebuah kebetulan yang menarik, karena bangsa Yunani kuno, bangsanya Socrates dan Plato, eyang guru dari Alexander tadi, juga menyebut salah satu nama yang dimiliki Tuhan mereka sebagai ‘Alpha Omega’, berarti ‘Yang Awal dan Yang Akhir’ (Alpha = Alif = huruf awal dalam alfabet yunani dan arab, simbol ‘awal’; sedangkan Omega = huruf terakhir dalam alfabet yunani, simbol ‘akhir’). Kemiripan yang sangat menarik, ya?



B. Asma-asma Allah.


Allah, adalah sebuah zat, sebuah entitas, yang tertinggi. Tak terbandingkan, tak terukur, tak terperi. Lalu apakah kita, sebagai makhluk, memungkinkan untuk menempatkan Dia ke dalam kepala kita, menaruhnya ke dalam sebuah konsep ‘nama’? Tentu tidak. Dia, secara utuh, secara menyeluruh, secara real, sesungguhnya tak bernama. Tak ada apapun yang bisa membungkus-Nya, termasuk sebuah nama.


Lalu untuk apakah, atau nama-nama siapakah, yang berjumlah sembilan puluh sembilan sebagaimana diperkenalkan dalam Al-Qur’an, dan disusun sebagai ‘asma’ul husna’? Nah, itu adalah bukti begitu penyayangnya Dia pada makhluknya yang satu ini, manusia.


Penjelasannya begini. Dia Yang Tertinggi jelas tak mungkin dibungkus atau terliputi oleh apapun, termasuk sebuah nama. Tapi Dia bersedia ‘menurunkan derajat-Nya’ demi supaya lebih dimengerti oleh manusia. Maka Dia memperkenalkan diri-Nya, bagi mereka yang ingin mengenal-Nya di tahap awal, dengan memisalkan dirinya dengan nama-nama sifat manusia. Memisalkan diri-Nya dengan nama-nama yang memungkinkan untuk dideskripsikan dalam bahasa manusia.


Ambil contoh, Ar-Rahmaan (Maha Pengasih) atau Ar-Rahiim (Maha Penyayang). Kita bisa memahami makna dua kata ini, karena nama sifat-sifat ini, pengasih dan penyayang, adalah nama sifat yang juga ada pada manusia. Tapi dari segi makna, kedua kata ini dalam memperkenalkan nama sifat-Nya sebenarnya telah mengalami degradasi makna yang amat sangat.


Maha Pengasih, atau Ar-Rahmaan, adalah ‘hanya’ bahasa manusia yang paling memungkinkan untuk menggambarkan salah satu sifat-Nya. Tapi kedalaman makna istilah ini telah berkurang jauh sekali, karena Dia, yang Tak Terperi, memisalkan diri-Nya dengan istilah manusia yang jelas tak memadai untuk melukiskan diri-Nya yang tak terbatas. Dalam asma’ul husna, misalkan istilah ‘Ar-Rahim’, sebenarnya ‘hanya’ merupakan sebuah istilah yang masih memungkinkan untuk bisa terpahami oleh manusia. Sifat Penyayang-Nya yang asli, yang real, yang tidak bisa dimisalkan dengan bahasa manusia, adalah jauh, jauh, jauh lebih penyayang lagi, melebihi apa yang tergambar pada sepotong kata ‘Ar-Rahim’.


Demikian pula untuk ke-98 asma asma Allah yang lain. Semua nama-nama tersebut, sebenarnya mengalami degradasi makna yang sangat jauh dari aslinya, demi supaya terpahami oleh kita, manusia. Sifatnya yang asli, tak terkira jauhnya melebihi apa yang mampu tergambarkan oleh sepotong kata dalam bahasa kita, manusia.


Allah telah berkenan ‘merendahkan diri-Nya’ ke dalam nama sifat-sifat manusia, yang jauh, jauh lebih rendah dari kedudukan-Nya yang asli. Ia bersedia dipanggil dengan bahasa kita. Ini sebuah bukti kasihsayang-Nya yang amat sangat. Bisakah kita membayangkan, misalnya ada seorang raja yang kerajaannya mencakup lima benua, lalu bersedia turun berjalan di pasar kumuh dan mau dipanggil dengan bahasa pasar, seperti ‘Lu’, ‘Sia’, atau ‘Kowe’? Raja tentu akan sangat murka. Tapi Dia, Allah, tidak. Meskipun Dia Maha Tinggi kedudukannya, tapi Dia bahkan bersedia memperkenalkan diri-Nya lebih dahulu (!), dan membahasakan diri-Nya dengan bahasa manusia, dan mencontohkan asma-Nya dengan sifat manusia.


‘Dia’ yang asli, sesungguhnya tidak bernama. Lalu istilah ‘Allah’ itu apa? Istilah itu ‘hanyalah’ bagian dari asma’ul husna, pada urutan yang pertama.


Istilah ‘Allah’, menurut seorang ahli hikmah, sebenarnya sebuah simbol juga. Menurutnya, istilah ‘Allah’, yang terdiri dari:



‘alif’, ‘lam’, ‘lam’ dan ‘ha’,


sesungguhnya merupakan singkatan dari kata bahasa Arab:



‘Al/Alif - li - li - hu/huwa’.



Alif, Lam, Lam, Ha


‘Al’ dalam bahasa Arab bermakna kata ganti tertentu, maknanya sama seperti ‘The’ dalam bahasa Inggris, atau seperti ‘El’ dalam bahasa Ibrani dan bahasa Spanyol. Maknanya, katakanlah, ’sesuatu’. Huruf ‘Alif’ bermakna ’sesuatu yang tegak’, ‘Allah’, atau bisa juga ‘yang mengawali’, mirip seperti alpha dalam aksara Yunani. Kata ‘Li’ dalam bahasa Arab bermakna ‘bagi sesuatu’, dan dalam lafaz ‘Allah’ kata ini diulang dua kali. Sedangkan ‘hu’ atau ‘huwa’ bermakna ‘Dia’.


Jadi lafaz ‘Allah’, kata yang di dalam Al-Qur’an paling sering dipakai-Nya untuk menyebut diri-Nya, sebenarnya sama sekali tidak mencakup keseluruhan zat-Nya. Lafaz ‘Allah’ sebagai simbol, sebenarnya justru mempertegas bahwa ‘Dia’ adalah tak bernama. Mengapa demikian? Karena jika makna ini dibaca secara keseluruhan, maka “Al, li, li, hu” kurang lebih maknanya adalah ‘Sesuatu, yang baginya diperuntukkan, dan sesuatu ini diperuntukkan, untuk Dia.” Jadi artinya secara sederhana adalah, ‘(simbol) ini diperuntukkan, dan permisalan ini diperuntukkan, untuk Dia (yang tak bernama).”


Dia yang asli, sebagai zat (entitas), sama sekali tak bisa diliputi oleh sebuah nama.



C. Hadits Rasulullah yang mengandung simbol serupa.


Kalau kita teliti dalam memperhatikan hadits berikut ini, kita akan mengerti bahwa Rasulullah bukan orang yang berkata dengan ‘pendapatnya sendiri’. Orang dalam tingkatan maqam seperti Rasulullan saw., tentulah setiap tindak tanduk dan perkataanya sudah sepenuhnya dalam bimbingan Allah swt. Tampak dari demikian akuratnya simbol-simbol yang digunakan, meskipun jika kita baca secara sepintas hadits ini sangatlah sederhana dan tidak bermakna dalam. Hanya kalau kita teliti, betapa dalam dan akuratnya simbol yang Beliau gunakan dalam kata- katanya.


Kita lihat hadits berikut ini:



Diriwayatkan dari riwayat Abu Hurairah ra.:


Para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat?”


Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama?”


Para sahabat menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.”


Rasulullah saw. bersabda, “Apakah kalian terhalang melihat matahari yang tidak tertutup awan?”


Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.”


Rasulullah saw. bersabda, “Seperti itulah kalian akan melihat Allah. Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka ia kelak mengikuti sembahannya itu. Orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah berhala mengikuti berhala.”


[H. R. Muslim no. 267]


Sepintas, hadits ini hanya berisi tentang melihat Allah di hari kiamat. Tapi kalau kita teliti lebih jauh perumpamaan yang digunakan dengan kacamata ilmu astronomi yang pada saat Rasul mengatakan hadits tersebut ilmu ini belum semaju sekarang, sebenarnya hadits ini juga menjelaskan bahwa ada bagian dari ‘Dia’ yang tak akan bisa kita kenali. Kita cermati perumpamaan bulan purnama yang dipakai beliau dalam hadits ini.


Sebagaimana kita tahu, pada saat bulan purnama di langit malam yang cerah, kita bisa melihat bulan ’seluruhnya’. Kata seluruhnya ini saya beri tanda kutip, karena memang ’seluruhnya’ itu semu. Kita melihat –seakan-akan– bulan tampak seluruhnya dari mata kita. Kita, saat itu, seakan-akan bisa ‘mengenal’ bulan seluruhnya.


Nah, di zaman modern ini, kita tentu mengetahui bahwa bulan adalah sebuah ’satelit,’ sebuah planet kecil yang mengelilingi bumi. Periode waktu rotasi bulan, sama persis dengan periode lamanya bulan mengelilingi bumi. Jadi, permukaan bulan yang menghadap bumi setiap saat adalah sisi yang sama persis, yang itu-itu saja. Tidak berubah.


Demikian pula, ada sisi lain di balik bulan yang akan selalu tidak tampak dari bumi, yang setiap saat akan selalu membelakangi bumi, tidak akan pernah terlihat dari bumi. Dengan kata lain, jika kita berdiri di sisi bulan yang terlihat dari bumi, maka meski bulan berotasi sambil terus mengorbit mengelilingi bumi, kita akan selalu terlihat dari bumi. Sebaliknya, jika kita berdiri di sisi bulan yang tidak terlihat dari bumi, maka kita tidak akan pernah terlihat dari bumi pula.


Gambar jelasnya seperti ini:



Rotasi Bulan: sisi yang selalu menghadap bumi


Inilah sebabnya, sejak zaman manusia pertama ada hingga sekarang, permukaan bulan yang tampak dari bumi kelihatannya tak pernah berubah, karena sisi yang menghadap bumi senantiasa merupakan sisi yang sama.


Di hadits ini, Rasul memisalkan Allah sebagai bulan purnama. Bulan, sebagaimana telah dijelaskan tadi, hanya ada satu sisi yang bisa terlihat oleh kita. Jadi, secara tersirat dalam hadits tadi, Rasulullah juga menjelaskan bahwa sesempurna- sempurnanya pengenalan seseorang akan Allah (seperti orang yang telah mencapai maqam para sahabat Beliau itu), sebenarnya barulah satu sisi dari Dia saja. Sisi yang memang Dia hadapkan sepenuhnya kepada manusia. Sisi inilah yang dalam bahasa agama disebut sebagai Wajah-Nya.


Tapi sampai kapan pun, akan tetap ada sisi lain dari Dia yang tidak akan pernah terpahami oleh manusia (karena Dia sesungguhnya Maha Tak Terbatas). Dan keseluruhan ‘Dia’ secara utuh, yang bisa dikenali dan yang tidak, dalam bahasa agama disebut Zat-Nya,” atau entitas-Nya, secara keseluruhan.


Jadi sekarang kita bisa lebih memahami, jika dalam Al-Qur’an atau doa yang diajarkan Rasulullah mengandung kata-kata ‘wajah Allah’ atau ‘wajah-Nya (wajhahu)‘, maka itu bukan berarti bahwa Dia memiliki wajah di depan kepala seperti kita. Itu maknanya adalah, konteks ‘Dia’ dalam kalimat itu adalah pada sisi yang masih bisa kita kenali. Sedangkan Zat-Nya yang utuh tidak akan pernah bisa kenali.


Mengenai zat-Nya, Al-Qur’an sendiri cukup menerangkan seperti ini:



“…laysa kamitslihi syay’un”



“… dan tiada sesuatupun yang bisa dijadikan permisalan untuk Dia.” (QS. 42 : 11)


Rasul melarang manusia memikirkan zat-Nya, dalam sabdanya, “Berfikirlah kalian tentang makhluk Allah, dan jangan sekali-kali berfikir tentang zat-Nya, sebab kalian akan binasa.” Bahkan Beliau sendiri pun mengakui bahwa dirinya tidak memahami ‘Dia’ dalam konteks zat, sebab dalam sabdanya Beliau menjelaskan, “sesungguhnya aku adalah orang yang bodoh dalam ihwal zat Tuhanku.”


Kembali pada contoh bulan di atas. Bulan, sesuai periode edarnya, akan tampak dari bumi bermacam-macam bentuknya, mulai dari bulan hitam (bulan tak tampak), bulan hilal, bulan sabit, bulan setengah, hingga bulan purnama.


Sebenarnya demikian pula pengenalan manusia kepada Allah ta’ala. Ada yang tidak mengenal sama sekali (bulan hitam), ada yang pengenalannya setipis hilal, ada yang pengenalannya seperti bulan setengah, dan ada pula yang pengenalannya terhadap Allah telah ‘purnama’. Namun demikian, sebagai zat tetap saja Dia tidak akan pernah terpahami sepenuhnya oleh manusia, karena Dia adalah Maha Tak Terbatas.



Berbagai Wajah Bulan


Dari sini saja, kita bisa mengerti bahwa faham panteisme, atau menyatunya Tuhan dan manusia sebagaimana yang dituduhkan kepada kaum sufi, adalah tidak tepat. Tentu mustahil sesuatu yang tak terbatas bisa terlingkupi oleh sesuatu yang terbatas.


Agaknya yang dituduhkan pada kaum sufi sebagai panteisme atau penyatuan, sebenarnya yang terjadi adalah ’sirna kediriannya’. Contohnya seperti cahaya lilin yang akan lenyap cahayanya jika diletakkan di bawah cahaya matahari. Ini masih perlu kita kaji lebih lanjut. Atau paling tidak, agaknya tidak semua sufi meyakini panteisme. Seperti kata teman saya: “Sufi, pantheisme? Sufi yang mana dulu, nih?”


Sekarang, dari cara Rasulullah memberikan contoh pada dalam hadits di atas, kita bisa lebih mengerti kira-kira sedalam apa akurasi hikmah dari kata-kata seseorang jika telah ada dalam tingkatan maqam seperti junjungan kita Rasulullah Muhammad saw. Tentu beliau tidak asal ambil contoh saja, seperti ketika kita sedang berusaha menerangkan sesuatu kepada orang lain. Sekarang semakin jelas pula bahwa segala sesuatu dari diri Beliau telah ditetapkan dalam bimbingan Allah ta’ala, bahkan sampai hal ’sepele’ seperti mengambil contoh yang tepat ketika menerangkan sebuah persoalan.


Juga sebagaimana hadits Rasulullah tadi, segala sesuatu dalam ciptaan-Nya pun tidaklah semata-mata hanya sebagaimana yang tampak dari luar. Allah tentu tidaklah sesederhana itu. Seperti hadits tadi, segala sesuatu juga mengandung makna batin. Alam semesta, bulan, bintang, batu, hewan, tumbuhan, manusia, syariat (ada syariat lahir dan tentu ada syariat batin), dan lain sebagainya. Sedalam apa seseorang melihat maknanya, tentu sangat tergantung pada kesucian qalbnya, sarana untuk menerima ilmu dari-Nya.


Kini kita bisa sedikit lebih mengerti pula, seperti apa kira-kira kesucian qalb Rasulullah saw, jika kata-kata Beliau mampu menyederhanakan kandungan makna yang sedalam itu (itupun baru yang bisa kita ungkapkan) dalam kesederhanaan simbol-simbol yang sangat akurat.


Kalau Al-Qur’an? Lebih tak bisa kita bayangkan lagi seperti apa sesungguhnya kedalaman kandungan makna Al-Qur’an.


Semoga bermanfaat,


Herry Mardian , Yayasan Paramartha

http://suluk.blogsome.com/

Rabu, 6 Mei 2009

Mutiara syair al-Imam asy-Syafi'i

Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.

Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa.

Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?

[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 47]

Diambil dari almukminun.blogspot.com

Isnin, 4 Mei 2009

Kita dianjur Cinta pada Ahlul Bayt.




بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن نصرهووالاه


Ketika turun Surah Asy Syuraa ayat 23: "Katakanlah wahai Muhammad, Aku tidak meminta balasan apapun dari kalian kecuali mencintai kerabat."

Kemudian Ibnu Abbas ra bertanya pada Rasulullah: Wahai Rasulullah, siapakah yang dimaksud dengan kerabat yang wajib kami cintai? Rasulullah SAW menjawab: Ali, Fatimah, dan anak keturunannya.

Untuk lebih jelasnya lagi, saya persilakan anda untuk membaca sendiri kitabnya al- Imam as- Suyuthi yang berjudul Ihya’ al-Mayt fi Fadlo’il Ahli al-Bait, yg memuat 60 Hadits tentang keutamaan Ahlu Bait.

1.) Dalam hadits sahih bukhori, Nabi Muhammad Shollahu laihi Wassalam bersabda " ibny hadza sayyidun, wala’allahu an yushliha bihi bayna fi’atayni adzimatayni minal muslimin , anakku ini (cucu beliau Al Hasan) adalah sayid (pemimpin,tuan), dan berkat dia, semoga Allah mendamaikan dua kelompok agung Muslim "(H.R Bukhari). Rasulullah menyebut cucunya dengan sebutan ibny yang artinya Anakku.

2.) Alhasan wa Al Husain Sayyidaa syababi ahlil jannah, Hasan dan Husain adalah sayyid (pemimpin,tuan) para pemuda penghuni surga (H.R tirmidzi, ibnu majah dan Ahmad).

3.) "Perumpamaan ahli bait-ku, seperti perahu Nabi Nuh. Barang siapa yang berada di atasnya ia akan selamat, dan yang meninggalkannya akan tenggelam." (H.R. Thabrani)

4.) "Aku meninggalkan kalian yang apabila kalian pegang teguh tidak akan tersesat. Kitab Allah, dan keturunanku."(H.R. Tirmidzi)

5.) "Umatku yang pertama kali aku beri pertolongan (Syafa’at) kelak di hari Kiamat, adalah yang mencintai Ahli bait-ku."(H.R. al-Dailami)

6.) "Didiklah anak-anak kalian atas tiga hal. Mencintai Nabi kalian. Mencintai Ahli bait- ku. Membaca al-Qur’an.(Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardaweih, dan at-Thabrani dalam kitab tafsir-nya)

7.)Dari Yazid bin Hayan, katanya: "Saya berangkat bersama Hushain bin Sabrah dan Umar bin Muslim ke tempat Zaid bin Arqam r.a. Ketika kita sudah duduk-duduk di dekatnya, lalu Husain berkata padanya:

"Hai Zaid, engkau telah memperolehi kebaikan yang banyak sekali. Engkau dapat kesempatan melihat Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam. mendengarkan Hadisnya, berperang besertanya dan juga bersembahyang di belakangnya. Sungguh- sungguh engkau telah memperolehi kebaikan yang banyak sekali. Cubalah beritahukan kepada kita apa yang pernah engkau dengar dari Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam.

Zaid lalu berkata:
"Hai anak saudaraku, demi Allah, sungguh usiaku ini telah tua dan janji kematianku hampir tiba, juga saya sudah lupa akan sebahagian apa yang telah pernah saya ingat dari Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam. Maka dari itu, apa yang saya beritahukan kepadamu semua, maka terimalah itu, sedang apa yang tidak saya beritahukan, hendaklah engkausemua jangan memaksa-maksakan padaku untuk saya terangkan."

Selanjutnya ia berkata: "Rasulullah Shollahu Alaihi Wassalam. pernah berdiri berkhutbah di suatu tempat berair yang disebut Khum, terletak antara Makkah dan Madinah. Baginda, Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam, lalu bertahmid kepada Allah serta memujiNya, lalu menasihati dan memberikan peringatan, kemudian bersabda:

"Amma Ba’du, ingatlah wahai sekalian manusia, hanyasanya saya ini adalah seorang manusia, hampir sekali saya didatangi oleh utusan Tuhanku - yakni malaikatul-maut, kemudian saya harus mengabulkan kehendakNya - yakni diwafatkan. Saya meninggalkan untukmu semua dua benda berat - agung - iaitu pertama Kitabullah yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Maka ambillah amalkanlah - dengan berpedoman kepada Kitabullah itu dan peganglah ia erat-erat." Jadi Rasulullah s.a.w. memerintahkan untuk berpegang teguh serta mencintai benar-benar kepada kitabullah itu.

Selanjutnya Baginda, Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam bersabda: "Dan juga ahli baitku. Saya memperingatkan kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam memuliakan ahli baitku, sekali lagi saya memperingatkan kepadamu semua untuk bertaqwa kepada Allah dalam memuliakan ahli baitku."

Hushain lalu berkata kepada Zaid: "Siapakah ahli baitnya itu, hai Zaid. Bukankah isteri- isterinya itu termasuk dari golongan ahli baitnya?"

Zaid menjawab: "Ahli baitnya Baginda Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam ialah Ahli keluarga keturunan - Ali, Alu Aqil, Alu Ja’far dan Alu Abbas." Hushain mengatakan: "Semua orang dari golongan mereka ini diharamkan menerima sedekah." Zaid berkata: "Ya, benar." (Riwayat Muslim)

Demikian sebagian dalil-dalil dari Hadits Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam yang secara jelas menyatakan keutamaan Ahlu Bait.

Bagaimana tidak, di dalam jasad mereka mengalir darah yang bersambung kepada makhluk yang paling utama, kekasih Allah, Sayyidinna Muhammad Shollahu Alaihi Wassalam yang sentiasa dikasihi oleh umatnya yang mengerti betapa cintanya Baginda Nabi kepada kita.

Wallahu’alam

وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وبارك وسلم أجمعين، والحمد لله رب العالمين

Al-Haqir ila ALLAH AL-GHANIY:
Almukminun
http://almukminun.blogspot.com/2009/04/jalan-cinta-kepada-ahlul-bayt.html

Hakikat dan Makrifat (akhir)


Sambungan....

Setelah seseorang mempelajari syariat, serta mengamalkan hukum syariat bersungguh-sungguh dalam setiap aspek kehidupan dia telah dikatakan telah bersyariat dan bertarikat. Maka Allah akan campakkan ke dalam dirinya rasa kehambaan dan rasa kesyukuran ke dalam dirinya. Mereka rasa lazat dalam beribadah dan merasa azab dalam melakukan dosa dan kemungkaran.
Firman Allah : Hanyasanya orang mukin yang sebenar itu, apabila disebut sahaja nama Allah, gementarlah hati-hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat Quran, bertambahlah keimanan mereka dan hanya kepada Tuhan mereka (Allah) sahajalah mereka menyerah diri." Al Anfal : 2.
Inilah yang dinamakan HAKIKAT. Hakikat ialah gerak rasa hati yang Allah campakkan ke dalam hati hambanya yang bersungguh-sungguh bersyariat dan mengamalkan syariat ( bertarikat ). Allah akan hapuskan sifat mazmumah (sifat hati yang terkeji) dalam hatinya dan Allah gantikan dengan sifat mahmudah (sifat hati yang terpuji ). Hakikat ini bukan ilmu yang boleh dipelajari, tetapi ianya anugerah Allah ke atas hamba NYA yang bersungguh-sungguh mempelajari, memahami, meyakini ilmu syariat secara ilmiah serta melaksanakan hukum-hakam NYA (bersyariat dan bertarikat).
Bersesuaian dengan firman Allah : "Orang-orang yang bermujahadah pada jalan Kami, Kami tunjuki jalan Kami, Sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang baik" Al Ankabut : 69.
Maka akan lahirlah manusia yang hatinya terpaut kecintaan kepada Allah. Manusia yang apabila disebut nama Allah, maka akan gementarlah seluruh jasad dan rohaninya. Akan lahirlah manusia yang memenuhi tuntutan konsep ibadah secara global yang mampu melaksanakan ibadah menurut Islam yang merangkumi ibadah Asas, ibadah fadailul a’mal dan ibadah yang umum. Akan lahirlah manusia yang cantik dan anggun akhlaknya sebagaimana memenuhi tuntutan perutusan Rasul ke mukabumi untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
Melengkapi seperti sabda Rasulullah SAW : "Sesungguhnya aku diutuskan untuk menyempurnakan akhlak".
Dengan ertikata lain, hakikat adalah buah dari syariat dan tarikat. Atau lebih tepat, hakikat adalah buah kepada pengabdian diri kepada Allah. Hilang mazmumah datang mahmudah. Perasan rindu dan asyik semasa beribadah. Ianya adalah anugerah Allah SWT. Maka akan lahir rasa takut kepada Allah, rasa tawakal dengan Allah, rasa harap kepada Allah, dan setiap amal perbuatan, perkataan dan gerak hati mereka sentiasa dipautkan kepada Allah. Setiap kejadian, musibah dan bala, sifat sabar, nikmat dan redha dihubungkaitkan dengan kekuasaan dan keagungan Allah bagi menambah keimanan, kesyukuran dan kehambaan padaNYA.

Disinilah tahap keimanan seseorang telah terserlah. Dia bukan sahaja mengenal Allah dengan akal fikiran melalui ilmu tauhid, tetapi juga secara keyakinan hati. Inilah yang diistilahkan sebagai MAKRIFAT.
Makrifat ialah keyakinan yang memperkuatkan keimanan kepada Allah setelah menempuh syariat dan tarikat, serta mencapai rasa hakikat. Orang yang memiliki makrifat inilah yang dinyatakan sebagai orang yang mengenal Allah dengan mata hati, ainul yakin. Mereka dapat membezakan antara yang haq (benar) dengan yang batil.

Orang yang telah mencapai tingkatan makrifat, Allah ilhamkan jalan yang mampu membawanya ke arah kecemerlangan agar dia dapat menempuhnya dengan mudah.

Mereka tidak perlukan pujian atau sanjungan manusia.Seandainya ada di kalangan manusia yang memuji akan keupayaannya beribadah kepada Allah SWT, pujian itu dianggap suatu ancaman yang bakal merosakkan hubungan antara dia dan Allah. Dia akan segera menghentikan puji-pujian tersebut demi menjaga hatinya dengan Allah.

Orang yang telah beroleh hakikat dan makrifat, tidak sama sekali menceritakan keseronokan bersama Allah kerana ianya adalah rahsia antara orang yang merasai kasih sayang Allah. Ianya juga disebabkan orang yang "asyik " tidak ada masa untuk menceritakan rasa cinta yang dirasai kepada orang lain. Mereka menempuh kelazatan dalam beribadah kerana telah mengenal diri dan mengenal Allah.

Akhiran kalam, adalah diwajibkan atas kita mengenal dengan sebenar-benar mengenal. Sabda Nabi SAW. yang bermaksud; Barangsiapa mengenal (makrifat) dirinya, maka mengenallah ia akan TuhanNya dan barangsiapa mengenal TuhanNya, maka binasalah dirinya.

Sebab itulah dikatakan bahawa: Bermula syariat dengan tiada hakikat itu "hampa" dan hakikat dengan tiada syariat itu "batal".

Kesimpulannya,.....Tarekat, Hakikat dan Makrifat adalah Syariat jua, tiada lainnya.

Wallahu Alam.

Ahad, 3 Mei 2009

Tarikat dan Bertarikat..(2)

Bagi mereka yang berusaha bersungguh-sungguh mengamalkan dan melaksanakan hukum SYARIAT, inilah yang dinamakan TARIKAT atau disebut dalam bahasa arab ialah TAREKAH.


Tarikat dari segi bahasa ialah jalan. Ingin diulang lagi agar lebih jelas......... Apabila seseorang telah mempelajari, memahami dan meyakini ilmu syariat, lalu dia meLAKSANAKAN atau BERAMAL dengan ilmu syariat tersebut, maka itulah yang diertikan dengan TARIKAT. Melaksanakan atau beramal dengan syariat.


Oleh itu apabila seseorang menjalankan atau melaksanakan hukum syariat dengan bersungguh-sungguh, setiap suruhan Allah sama ada yang wajib dan yang sunat dilaksanakan sungguh-sungguh. Setiap larangan Allah sama ada yang haram atau yang makruh ditinggalkan sungguh-sungguh. Maka mereka telah dikatakan telah BERTARIKAT.


Contohnya ; Abu telah ke madrasah dan mempelajari cara bersolat. Dia telah mempelajari rukun solat, syarat wajib solat, perkara yang sunat dilakukan dalam solat, syarat sah solat dan perkara-perkara yang membatalkan solat. Setelah dia mempelajarai dan memahami ilmu tersebut, dia pun beramal dengan ilmunya untuk menunaikan solat. Maka Abu telah dikatakan telah berTARIKAT di bidang solat.


Tarikat pada erti kata yang pertama ini hukumnya adalah WAJIB. Inilah jalan yang dilalui oleh Rasulullah SAW dan para sahabat serta tabiin dan orang di zaman salafussoleh. Jalan inilah juga yang patut kita lalui, iaitu jalan yang menjadikan kita melaksanakan segala perintah yang disuruh Allah dan meninggalkan perintah yang dilarang oleh Allah. Inilah perkara yang wajib kita lakukan sebagai makhluk yang dicipta Allah dan mahu menjadi hamba kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Berkuasa.


Adapun Tarikat dari istilah yang kedua, ialah apabila seseorang menyusun ayat-ayat Al Quran tertentu, zikir-zikir tertentu, salawat ke atas Nabi Muhammad SAW dan diamalkan secara berjadual dalam kehidupan sehari-harian. Tarikat yang diertikan di sini hukum asalnya hanyalah SUNAT.


Dari sinilah lahir jemaah-jemaah zikir atau dipanggil orang sebagai jemaah tarikat. Antara jemaah zikir atau jemaah tarekat yang kita sering dengar ialah Tarikat Ahmadiah, Tarikat Naqsyabandiah, Tarikat Samaniah, Tarikat Syazaliah, Tarikat Kadiriah, Aurad Muhammadiah dan lain-lain lagi. Jadi termasuk jugalah di dalam kategori ini ialah pengamalan Al Ma'thurat.


Tujuan mereka menghimpun dan beramal adalah untuk mendidik diri untuk berdisiplin dalam beramal dengan ketiga-tiga juzuk ilmu Islam iaitu Tauhid, Feqah & Tasauf . Secara tak langsung memberi kekuatan jiwa tambahan untuk beramal dengan hukum syariat secara keseluruhan, dalam kehidupan sehari-hari. Sama ada dalam diri, dalam keluarga, dalam masyarakat hingga ke peringkat negara. Sebab itu jika disingkap lembaran sejarah, tunggak perjuangan sesuatu gerakan Islam adalah disokong oleh jemaah zikir atau tarekat.


Sultan Muhammad Al Fateh, sultan yang berjaya menawan Kota Konstantinopel dan pengasas Empayar Osmaniah adalah ahli zikir (ahli tarikat). Begitu juga As Syahid Omar Mokhtar pejuang terakhir Gerakan Sanusi yang merupakan benteng pertahanan terakhir khalifah Osmaniah adalah pengamal Tarekat As Sanussiah.


Imam Bonjol di Aceh yang menentang penjajahan Belanda adalah ahli tarekat Naqsyabandiah. Mat Kilau dan datok Bahaman yang berguru dengan Tokku Paloh adalah pengamal tarekat Naqsyabandiah. Malah As Syahid Hassan Al Banna dari Ikhwan Muslimin adalah ahli tarekat aliran Al Ma’thurat.Tidak lupa disebut Almarhum Tok Kenali yang berguru dengan Sheikh Ahmad Al Fathani dari aliran Tarekat Syattariah dan Al Marhum Tokku Paloh dari aliran Tarekat Naqsyabandiah. Tokku Paloh yang melindungi Mat Kilau dan Datok Bahaman sewaktu diburu British. Tokku Paloh yang melarikan kedua-dua anak muridnya dan disembunyikan di Hulu Besut. Mereka ini bukan sekadar menyumbang di dalam perjuangan Islam menentang penjajah, malah mereka juga membangunkan pendidikan Islam serta menghasilkan kitab-kitab ilmu Tauhid, Feqah dan Tasauf yang menjadi sumber rujukan kepada umat Islam di nusantara.


Antaranya ialah :a. Sheikh Daud bin Abdullah Al Fathani menghasilkan kitab Dhiyaul Murid fi Bayani Kalimatit Tauhid yang membicarakan ilmu tauhid dari aliran tarekat Syatariah.


b. Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani yang menulis kitab Risalah Tauhid dan Hidayatus Salikin Fisuluki Maslakil Muttaqin kitab ilmu Tauhid dan Tasauf; adalah dari aliran tarekat Samaniah.


c. Sheikh Ahmad Al Fathani yang menulis kitab Faridatul Faraid yang juga kitab ilmu tauhid yang memperjelaskan aqidah ahlus sunnah wal jamaah, adalah ahli tarekat.


d. Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari Pengarang Sabilal Muhtadin.

Malangnya, kita di zaman moden ini, telah dijauhkan dengan istilah tarekat oleh orientalis. Apatah lagi wujud fahaman Islam yang menyeleweng. Kononnya mereka adalah pejuang kemerdekaan. Sebaliknya sejarah telah JELAS membuktikan fahaman tersebut lahir untuk membantu negara kuffar menjatuhkan empayar Osmaniah yang merupakan sistem kekhalifahan Islam terakhir serta menghalang segala usaha gerakan-gerakan Islam yang cuba membangunkan semula system khalifah Islam.


Fahaman inilah yang sering memomok-momokkan umat Islam, bahawa jemaah tarekat adalah bidaah dan menyesatkan, kerana disebalik amalan zikir yang membawa ketenangan hati, disitulah lahirnya rasa kehambaan dan cinta kepada Allah Yang Maha Agung. Maka terciptalah manusia-manusia yang cintakan syahid dan merindui pertemuan dengan Allah Yang Amat Dicintai, yang mampu berjuang dan berkorban demi keagungan Islam terserlah kembali. Inilah yang amat ditakuti oleh fahaman terseleweng tersebut kerana akan hilang imbuhan menjadi boneka negara kuffar.


Tidak kurang juga, orang yang belajar sedikit-sedikit tentang ilmu tarikat, dan sedar kelebihan ilmu tarikat ini. Mereka mengambil kesempatan dengan memperbodohkan para pengikutnya yang sedia jahil. Bab dan persoalan ilmu syariat yang menjadi asas kepada perlaksanaan dan pengamalan Fardhu Ain dia abaikan dalam mendidik murid dan pengikutnya, agar dia boleh terus mempunyai para pengikut yang taksub buta yang jahil tentang syariat. Ini bagi memudahkan dia mempunyai kuasa dan menghimpunkan kepentingan duniawi termasuk mengaku dirinya wali Allah yang dijanjikan. Seandainya para pengikutnya arif dibidang agama khususnya ilmu asas Fardhu Ain, pastinya dia akan kehilangan pengikut. Jadi dia akan berusaha untuk menjauhkan para pengikutnya dari ilmu asas Fardhu Ain, sebaliknya dia sibuk menceritakan hal-hal kerohanian ciptaannya yang kononnya diterima dari Rasulullah dan secara langsung dari Allah.


Manusia-manusia durjana sebeginilah yang mendatangkan fitnah ke atas jemaah tarikat yang haq.Ingin ditegaskan sekali lagi bahawa antara kedua pengertian tarikat yang dibentang tadi, antara keduanya, pengerian yang pertama ( mengamalkan syariat secara keseluruhan ) adalah WAJIB, sementara tarikat dari pengertian kedua ( himpunan ayat Al Quran tertentu, zikir-zikir tertentu, selawat dan diamalkan secara berjadual dalam kehidupan harian adalah SUNAT.


Antara hukum yang WAJIB dan hukum yang SUNAT, tuntutan hukum yang WAJIB adalah lebih utama. Jangan sampai kerana hendak bertarikat dengan pengertian kedua yang kedudukannya SUNAT, lantas kita mengabaikan tarikat dalam pengertian yang pertama yang kedudukannya WAJIB.


Kiasannya, perlaksanaan hukum yang wajib adalah KERJA FULLTIME, sementara pengamalan hukum yang sunat adalah OVER-TIME. Kalau kerja FULL-TIME tak dibuat, layakkah pekerja buat tuntutan kerja OVER-TIME ? Pastinya tidak layak, malah pekerja tersebut layak untuk diambil tindakan tatatertib.


Kerana pengabaian untuk beramal dengan syariat menurut pengertian pertama tadilah maka munculnya fitnah ke atas jemaah-jemaah tarikat yang menurut pengertian kedua. Tetapi ingin ditegaskan juga, seandainya tarekat dari pengertian pertama dan dari pengertian kedua itu dilaksanakan atau diGABUNGkan, maka akan lahirlah manusia yang ingin sentiasa bertaqarrub kepada Allah. Akan lahirlah manusia yang akan menunaikan titah perintah Allah, dalam dirinya, keluarganya, masyarakatnya dan seterusnya di dalam ummahnya.


Wallahu Alam..
Diedit dari laman Perjuangan Yang Belum Selesai.....Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat. Terima Kasih.

Syariat...bersyariat..(1)



Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi". Mereka bertanya: "Adakah Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memujiMu dan mensucikanMu?". Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya" ( Surah Al Baqarah :30)

Diciptakan manusia oleh Allah di muka bumi bukanlah hanya untuk bersenang-lenang mengecapi tipu daya dunia, tetapi Allah telah datangkan manusia ini di muka bumi sebagai khalifah NYA untuk mentadbir dunia ini agar mematuhi hukum-hakam dan peraturan yang telah Allah tetapkan. Allah sahaja yang layak menentukan peraturan bagi setiap ciptaan NYA. Ibarat sebuah televisyen jenama SONY, adalah mustahil manual pengguna dari jenama SAMSUNG digunapakai oleh pengguna untuk mengoperasikan peralatan tersebut.

Begitu jugalah dunia dan alam ini, ianya ciptaan Allah, maka Allah sahajalah yang selayak menentukan peraturan yang wajib dipatuhi oleh makhluk ciptaan NYA. Peraturan selain dari apa yang Allah telah tetapkan adalah peraturan yang tidak mampu menyelesaikan permasalahan hidup manusia. Manusia kini kerana keegoan, mereka menilai sesuatu bukan menggunakan neraca hukum-hakam yang telah Allah sediakan, sebaliknya mereka menggunakan rasa naluri keseronokan nafsu ke atas duniawi sebagai kayu pengukur kebenaran dan kebatilan. Sebab itu tidak hairan di dunia kini, kita dapat saksikan dengan mata kepala kita sendiri, apabila hukum-hakam Allah diketepikan, dan peraturan ciptaan akal fikiran manusia yang lemah digunapakai, maka lahirlah kerosakan di lautan dan di daratan oleh hasil tangan manusia itu sendiri. Segala-galanya ialah kerana mereka tidak mahu menghukum dengan hukum-hakam yang telah Allah tetapkan. Hukum-hakam inilah diertikan dengan SYARIAT.

Syariat ialah hukum hakam Allah atau peraturan-peraturan yang telah Allah tetapkan melalui firman NYA di dalam Al Quran dan disampaikan oleh Sunnah Rasulullah SAW.

Untuk lebih mudah difahami dan diamalkan oleh umat yang terkemudian, syariat yang menjadi peraturan atau hukum hakam Allah yang terkandung di dalam Al Quran & Sunnah Rasulullah SAW , telah diterjemahkan oleh ulamak Imam mazhab yang empat dan diberi contoh dengan qias. Adapun hukum syariat itu terbahagi kepada lima. Setiap tindak tanduk, amal perbuatan dan percakapan dalam kehidupan sehari-harian kita tidak terlepas dari 5 hukum syariat ini. Kelima-lima hukum dalam syariat itu adalah seperti berikut :

1. Wajib = dibuat dapat pahala, ditinggalkan berdosa, kedudukannya MESTI buat.
2. Sunat = dibuat dapat pahala, ditinggalkan tak mengapa . kedudukannya ELOK buat.
3. Haram = dibuat berdosa, ditinggalkan dapat pahala, kedudukannya MESTI tinggal.
4. Makruh = ditinggalkan dapat pahala, dibuat tak mengapa, kedudukannya ELOK tinggalkan.
5. Harus = dibuat atau ditinggalkan dosa tak dapat, pahala pun tak dapat, kedudukannya terpulang pada diri sendiri, tempoh 5 syarat ibadah , beroleh pahala. Lima syarat tersebut ialah :

a) Niat mesti betul
b) Perlaksanaan mesti selaras dengan syariat
c) Natijah mesti betul tidak bertentangan syariat
d) Perkara yang dibuat dan dilaksanakan dibenarkan oleh syariat
e) Tidak meninggalkan ibadah yang asas

Apabila Syariat menyuluh / mengatur hal ehwal keyakinan dan keimanan, dinamakan Usuluddin / Tauhid. Apabila Syariat menyuluh hal ehwal lahiriah, peraturan yang zahir, dinamakan Feqah. Dan apabila Syariat menyuluh / mengatur hal ehwal hati , sifat-sifat hati, dinamakan Tasauf / Akhlak.

Inilah yang disebutkan di dalam Hadis Rasulullah SAW berkenaan Iman, Islam dan Ihsan.

Dari Umar Ibnul-Khattab r.a, katanya : Sedang kami duduk di dalam majlis bersama Rasulullah SAW pada suatu hari, tiba-tiba mucul di dalam majlis itu seorang laki-laki yang berpakaian serba putih, berrambut terlalu hitam, tiada kesan bahawa ia seorang musafir, dan tiada antara kami yang mengenalinya, lalu duduk ia bersama Rasulullah SAW, dan ditemukan kedua lututnya dengan kedua lutut Rasulullah SAW serta diletakkan kedua tapak tangannya ke atas kedua paha Rasulullah SAW, lalu berkata :

Sipemuda : Khabarkan aku tentang Islam ?

Rasulullah : Islam, iaitu hendaklah mengucap syahadat - bahawa tiada Tuhan melainkan Allah Ta'ala dan bahawasanya Muhammad itu Rasulullah, dan hendaklah bersembahyang, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah apabila berdaya ke sana.

Sipemuda : Benar katamu.

( Berkata Umar r.a : Kami merasa hairan kepada tingkah laku sipemuda itu, dia yang bertanya dan dia pula yang mengiyakannya )

Sipemuda : Khabarkanlah kepada ke tentang Iman ?

Rasulullah : Hendaklah engkau beriman kepada Allah, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-RasulNya, Hari Akhirat dan hendaklah engkau beriman kepada taqdir Allah yang baikNya atau yang burukNya.

Sipemuda : Benar katamu ! Khabarkanlah kepadaku tentang Ihsan ?

Rasulullah : Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihatNya. Sekiranya engkau tidak dapat melihatNya sesungguhnya Allah sentiasa dapat melihat engkau.

Sipemuda : Khabarkan padaku tentang hari kiamat ?.

Rasulullah : Tiadalah orang yang ditanya itu lebih mengetahui dari orang yang bertanya.

Sipemuda : Khabarkan padaku tentang tanda-tandanya ?

Rasulullah : Apabila hamba perempuan melahirkan tuannya sendiri ; Apabila engkau melihat orang yang berkaki ayam, tidak berpakaian, pengembala kambing ( berbangga ) membina bangunan yang tinggi-tinggi.
( Kemudian beredar keluar sipemuda itu dari majlis tersebut )

Rasulullah : Tahukan anda wahai Umar siapakah pemuda yang menyoal kau tadi ?

Umar Al-Khattab : Allah dan RasulNya jua yang mengetahui.

Rasulullah : Itulah Jibril a.s yang telah mendatangi aku untuk mengajarkan kamu pelajaran agama kamu. ( Sahih Bukhari )

Maka sebagai khalifah Allah yang telah diamanahkan untuk melaksanakan hukum-hakam Allah dimukabumi, tanggungjawab ke arah perlaksanaan hukum syariat tersebut hendaklah dilaksanakan. Perlaksanaan hukum syariat dari perkara yang remeh temeh seperti qadha hajat hinggalah ke aspek kehidupan yang lain seperti membangunkan institusi kekeluargaan, pendidikan, ekonomi dan kenegaraan. Perlaksanaan hukum syariat ini adalah WAJIB bagi setiap muslim. Barangsiapa yang tidak menghukum dengan hukum-hakam atau peraturan yang telah Allah tetapkan, maka akan jatuh ke atas mereka salah satu dari tiga hukum iaitu FASIQ, ZALIM atau KAFIR wal iyazubillahi min zalik.

Maka kesimpulannya, SYARIAT lah yang menjadi kayu ukuran dan piawai untuk menilai sejauh mana benar sesuatu amalan, sejauh mana kebenaran sesuatu kepercayaan, sejauhmana kebenaran sesuatu amal perbuatan, perkataan dan sebagainya. Inilah neraca yang perlu digunakan oleh umat Islam dalam menempuh kehidupan di dunia menuju ke negara akhirat yang kekal abadi. Syariat inilah yang menjadi titik tolak dalam kita mengatur setiap langkah-langkah menyelusuri perjalanan ke arah mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Jika Syariat diabaikan, walau pun kita mengaku pandai, kita mengaku hamba Allah, walau kita mengaku pejuang Islam, walau kita mengaku ahli tarikat, mengaku ahli hakikat dan ahli makrifat, mengaku waliyullah dan sebagainya, pengakuan kita hanyalah sia-sia. Tiada nilai disisi Allah SWT.

Sekian ..serba sedikit pengetahuan atau ringkasan apa yang dikatakan syariat itu yang diedit dari laman Perjuangan yang belum selesai.....Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat.

Selepas posting ini..syariat..akan diikuti dengan posting seterusnya..tarekat, hakikat dan makrifat dan akan diulas dipenghujung nanti. Terima kasih.

Jumaat, 1 Mei 2009

Ilmu dan tarbiyah islami

Allah dalam Al-Quranul Karim telah beberapa kali melontarkan pertanyaan yang bermaksud adakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?... tidakkah kamu mahu berfikir?... Ini menunjukkan ilmu pengetahuan adalah penting bagi setiap individu muslim. Tanpa ilmu seseorang itu tidak mungkin dapat melaksanakan amalan. Ilmu tanpa amalan adalah rugi. Manakala amalan tanpa ilmu adalah sia-sia. Dalam Islam menuntut ilmu itu adalah wajib ke atas setiap muslim / muslimah. Ada hadith baginda Rasulallah menganjurkankan umatnya berusaha menuntut ilmu.

Secara ringkasnya ilmu adalah pengetahuan / informasi / maklumat yang diperolehi samada dari seseorang ataupun institusi ataupun memperolehi sendiri dari pengamatan atau dari pengalaman yang semuanya dengan izin dan ketentuan Allah.

Manusia yang berilmu dalam sesuatu bidang selalunya dipandang mulia oleh manusia lain. Manusia ini menjadi idola ataupun menjadi pemimpin dari kalangan mereka disebabkan bidang ilmu yang dimilikinya. Sekiranya ilmunya digunakan dijalan yang betul dan berlandaskan hukum dan mengabdi diri kepada Allah s.w.t. itulah hakikat ilmu yang dituntut sebenarnya dalam Islam.

Dan sekiranya kalau manusia itu cukup tinggi keilmuannya tapi tidak berlandaskan hukum dan pengabdian diri kepada Allah s.w.t maka jadilah kucar-kacir dalam institusi ilmiah itu sendiri dan natijahnya pada pembentukan masyarakat dan alam ini.

Ilmu yang selari dengan tuntutan islam adalah ilmu yang bermanfaat dalam pembentukan umat berpengetahuan samada duniawi dan ukhrawi. Di sinilah ilmu disertakan dengan tarbiyah keislaman.

Istilah tarbiyah secara umumnya adalah didikan ilmu samada di rumah, sekolah, organisasi dan sebagainya yang di arahkan kepada pembentukan peribadi. Tarbiyah dikaitkan dengan pembinaan peribadi muslim hingga timbul kesedaran Islam yang syumul dan berakhlak. Tarbiyah bukan membekalkan pengetahuan dan pengajian sahaja tapi lebih dari mendidik, membina dan membentuk peribadi muslim yang mempunyai akhlak dan akidah yang mampu bergerak dalam harakah islamiyah.

Contohya ulama-ulama yang disabdakan oleh Rasulallah sebagai pewaris para nabi. Mereka bukan setakat mewarisi ilmu sahaja, bahkan mewarisi tarbiah Rasulullah s.a.w. dengan Al-Bashirah (pandangan mata hati) dan Al-Khibrah (pengalaman).

Dalam tuntutan mencari ilmu kita biasa dengar orang berkata " carilah guru yang mursyid atau carilah guru yang kamil". Ertinyanya kewajipan mencari guru-guru sedemikian adalah satu tuntutan yang mempunyai seribu hikmah. Ilmu adalah ibarat pelita hati. Kalau ilmu yang dituntut tidak berlandaskan ciri-ciri keislaman maka kehancuran bukan saja pada diri tapi pada ummah itu sendiri.

Jadi untuk menggapai ilmu yang bersandarkan ciri-ciri islami maka pelajarilah dari guru yang mursyid / kamil yang pernah mengambil tarbiah dari seorang guru yang juga pernah mengambil tarbiah dari gurunya sebelum ini dan seterusnya sehingga bersambung salasilah tarbiah tersebut kepada Rasulullah s.a.w. melalui para sahabat, para tabi’in, tabi’tabi’en dan para ulama’ yang amilin yang seterusnya.

Dewasa ini, zaman moden era globalisasi... institusi ilmiah bercambah merata cerok. Beralasankan era globalisasi, tenaga pengajar @ ulama' diimpot tanpa mengambilkira tahap manhaj tarbiyah mereka. Ini menyebabkan, ramai dari kalangan murid hanya mewarisi ilmu dari mereka sahaja, tetapi tidak mewarisi akhlak mereka kerana tidak pernah ditarbiah oleh mereka, seterusnya melahirkan generasi ulama’ baru yang ketandusan tarbiah dan akhlak.

Di Malaysia kini terdapat universiti, institusi pengajian, kolej-kolej dan madrasah-madrasah yang dibuka secara meluas, dan menyebabkan ramai di kalangan penuntut ilmu masuk berpusu-pusu ke pusat-pusat pengajian tersebut. Dari zahirnya, ia merupakan suatu perkembangan positif dalam memperbanyakkan ulama' pelapis, namun dari suatu sudut yang lain juga, lambakkan penuntut ilmu di pusat-pusat ilmiah itu menyebabkan institusi pengajaran Islam tersebut hanya mewariskan ilmu pengetahuan tanpa mewariskan tarbiah kepada panuntut-penuntut itu. Ini menyebabkan lahirnya generasi ulama’ baru yang mana, sebahagian dari mereka tidak ditarbiah dengan sempurna. Dan ini juga menyebabkan, mereka mewarisi ilmu tanpa amal, hasil ketandusan tarbiah dalam intisitusi pengajian Islam itu sendiri.

Walhasil dari itu wujudlah generasi ulama' baru, pakar dalam bidang ilmuan tapi jauh dari penyucian jiwa. Ulama’ sedemikian dikenali dengan istilah ulama’ dunia atau ulama’ suuk menurut Imam Al-Ghazali r.a. Masalah yang dihadapi umat Islam sekarang tidak disentuh mereka atau tidak pun diambil peduli. Cukuplah hanya menanti bayaran upah di hujung bulan, berkereta besar, tinggal di kediaman mewah dan menghadiri majlis-majlis keraian hanya untuk membaca doa. Ataupun sibuk dengan kerja-kerja mesyuarat, kursus, pembentangan kertas-kerja tapi kerja buat...habuk saja. Buat abeh beras aje! Mereka tak ubah seperti pak turut atau pak angguk. Fikiran dan jiwa mereka kacau tanpa disadari. Sakit dalaman seperti takabbut’ ujub’ dan sayangkan dunia terserlah. Jangkitan ini akan menulari masyarakat yang pasti akan terkesan sama bahkan lebih parah lagi sekiranya masyarakat itu tidak berilmu dan tidak pernah menerima tarbiyah islami.

Akhiran kalam renunglah bersama dan fikirkan bagaimana kita hendak acuankan anak-anak kita supaya generasi mendatang berilmu dan ditarbiyah dengan roh dan semangat islami. Allahu Akbar!

Sebahgian artikel aku copy n paste dari laman Ust. Raja Ahmad Mukhlis...izinkan dan terima kasih.